ReviewReviewReviewReviewReviewBuah Maja yang PahitOct 21, '07 10:19 PM
for everyone
Category:Books
Genre: History
Author:Langit Kresna Hariadi
Sumpah Palapa bukan berarti Gajah Mada pantang makan buah Palapa. Sumpah Palapa (Hamukti Palapa) yang sebenarnya berarti bahwa Gajah Mada bersumpah akan terus melakukan laku prihatin, bekerja keras segenap raga, dan menghindari kesenangan duniawi sebelum seluruh Nusantara bersatu dibawah panji-panji Majapahit.
Kok, guru-guru sejarah bilang sumpah palapa itu artinya tidak makan buah palapa? Buah palapa itu yg gimana juga sih?! Menyesatkan!

Berkisah tentang Majapahit kurang sedap rasanya tanpa si cantik Ardhanareswari.

Ardhanareswari adalah gelar Ken Dedes yang berarti wanita utama yang melahirkan raja – raja. Artinya banyak trah keturunan Ken Dedes yang menjadi raja. Ada Anusapati yang dibunuh Tohjaya (anak Ken Arok dari Ken Umang). Lalu Ranggawuni (anak Anusapati) dan Mahisa Cempaka (anak Mahisa Wonga Teleng) menggempur Tohjaya dan akhirnya berdua memerintah Singasari. Kemudian Raden Wijaya (cucu Mahisa Cempaka) membangun Majapahit. Ia menamakannya Majapahit karena sewaktu lapar, ia dan anak buahnya makan buah Maja yang rasanya pahit. Jadilah nama tempat itu Majapahit. Setelah menjadi raja Majapahit pertama, Raden Wijaya bergelar Kertarajasa Jayawardhana. Keturunan Raden Wijaya (Jayanegara, Tribuanatunggadewi Jayawisnuwardhani, Rajadewi Maharajasa, Hayam Wuruk) turun temurun memerintah Majapahit.

Tapi fokus kita tentu bukan pada cerita Ken Dedes dan para keturunannya.

Cerita pertikaian keturunan Ken Dedes adalah satu bagian dari novel fiksi bertitel : Gajah Mada.

Ditulis sangat seru oleh Langit Kresna Hariadi. Meski fiksi, novel ini sarat cerita sejarah, khususnya Majapahit. Membacanya, kita serasa hidup bersama sang tokoh utama Gajah Mada, ikut urun rembuk dengan para raja, turut merasakan perihnya luka ketika pertempuran terjadi, menentukan siapa dalang pemberontakan, dan tertawa bahagia ketika gembira menyeruak di seantero Majapahit. Lebih hidup dari Harry Potter yang sekadar khayalan! Jauh unggul dibanding Da Vinci Code yang cuma sensasional! Jangan baca novel ini sambil ngemil. Percuma! Cemilan tak akan tersentuh saking serunya membaca!

Ber-setting cerita abad ke-13, buku ini terdiri dari 5 seri. Seri pertama menceritakan asal-usul Majapahit dan pemberontakan Ra Kuti yang berhasil ditumpas Gajah Mada. Ia juga berhasil menyelamatkan Prabu Jayanegara dari kejaran pemberontak. Uniknya, saat menumpas pemberontakan Ra Kuti, Gajah Mada masih berumur dua puluhan dan berpangkat Bekel. Diatas Bekel ada pangkat Senopati, Temenggung, Patih dan Mahapatih. Gajah Mada memimpin Pasukan Khusus Bhayangkara. Pasukan Khusus Bhayangkara adalah pasukan kecil yang bertugas menjaga istana dan keluarga kerajaan. Pasukan itu mempunyai daya tempur tinggi, mampu bertahan dalam keadaan sesulit apapun, hebat dalam tugas telik sandi (mata-mata), dan ahli menyamar. Kalau sekarang kehebatan Pasukan Khusus Bhayangkara mungkin bisa disamakan gabungan antara Paspampres, Kopassus, dan BIN.

Buku seri kedua berjudul “Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara”. Menceritakan tentang naiknya Sri Gitarja (bergelar Tribuanatunggadewi Jayawisnuwardhani) dan adiknya Dyah Wiyat (bergelar Rajadewi Maharajasa) menjadi Ratu menggantikan kakak mereka Prabu Jayanegara yang mati diracun Ra Tanca. Ra Tanca sendiri mati ditikam keris Gajah Mada. Juga ada cerita tentang perebutan kekuasaan yang dilakukan kroni Raden Cakradara (suami Sri Gitarja) dengan kroni Raden Kudamerta (suami Dyah Wiyat). Cakradara dan Kudamerta sendiri tidak tahu apa yg dilakukan kroni-kroninya dibelakang mereka. Selain itu ada kisah sepak terjang Gajah Mada mengatasi separatisme di Karang Watu pimpinan istri almarhum Ra Tanca.

Pada buku ketiga, saat diangkat menjadi Mahapatih, Gajah Mada mengucapkan sumpah yang legendaris “Hamukti Palapa”. Pangkat Mahapatih menjadikan ia orang nomor dua pemegang kekuasaan tertinggi di Majapahit yang saat itu dipimpin Ratu Prabu Tribuanatunggadewi Jayawisnuwardhani. Hampir semua orang menganggap Gajah Mada bermimpi terlalu muluk dengan ambisinya menyatukan Nusantara ke naungan Majapahit. Tapi Gajah Mada tetap bekerja sangat keras untuk cita-citanya. Diceritakan pula bahwa Gajah Mada mendapat ilmu yang bisa mendatangkan angin beliung. Kemampuan itu diwarisinya dari Kiai Pawagal.

Selanjutnya adalah buku ke-4 “Perang Bubat”. Sejarah perang di lapangan Bubat inilah secara tak langsung mengungkap kemungkinan kenapa sampai sekarang antara suku Jawa dan Sunda ada rasa “ingin saling menjatuhkan dan meremehkan”. Misal, wanita Sunda sebaiknya jangan menikah dengan pria Jawa karena akan dikalahkan.

Dalam seri “Perang Bubat” wilayah Majapahit telah membentang sampai Tumasek (sekarang Singapura), Melayu (Malaysia dan Brunei), dan wilayah dekat Dharmasraya (diyakini sekarang adalah Kamboja dan Thailand). Majapahit juga telah memiliki armada laut yang menjaga wilayah maritim. Kalau armada udara belum lah, karena jaman itu belum ada yg bisa bikin pesawat terbang.

Pada masa itu Gajah Mada melakukan kesalahan dibalik ambisi besarnya. Kesalahan ini menjadi titik tolak pudarnya pamor Gajah Mada yang kemudian diiringi pudarnya pamor Majapahit.

Kesalahan Gajah Mada diceritakan saat ia ingin negeri Sunda Galuh bergabung dengan Majapahit untuk menghadapi negeri Tartar (Cina). Di tanah Sunda waktu itu ada dua kerajaan, Sunda Galuh di bagian utara dan Sunda Pakuan di bagian selatan. Sunda Galuh menolak. Bagi Galuh, bergabung dengan Majapahit sama saja tunduk kepada penjajah karena apa yang dilakukan Majapahit sama dengan menjajah. Kebetulan pula Prabu Hayam Wuruk (naik tahta menggantikan ibunya Tribuanatunggadewi Jayawisnuwardhani) ingin memperistri Dyah Pitaloka Citraresmi (anak Raja Sunda Galuh bernama Maharaja Linggabuana). Gajah Mada menginginkan Dyah Pitaloka sebagai bentuk tunduknya Sunda Galuh kepada Majapahit. Sunda Galuh tersingggung. Apalagi Gajah Mada memerintahkan penyerangan jika Sunda Galuh menolak. Demi mempertahankan harga diri yang telah diinjak-injak, utusan Sunda Galuh yang saat itu berada di lapangan Bubat bersedia bertempur. Karena kalah jumlah (hanya 100 orang), Sunda Galuh kalah. Dalam perang singkat itu keluarga kerajaan semua tewas, Maharaja Linggabuana, Permaisuri Dewi Lara Linsing, dan Dyah Pitaloka. Rakyat Sunda Galuh sangat terluka dan berduka. Hal itu menyebabkan mereka membenci Gajah Mada, untuk kemudian membenci Majapahit dan orang Jawa. Peristiwa itu diyakini masih membekas diantara dua suku meski kejadiannya sudah berlalu ratusan tahun.

Buku terakhir berjudul “Madakaripura Hamukti Moksa”. Peristiwa di lapangan Bubat disesali banyak orang, termasuk kalangan istana. Gajah Mada mengundurkan diri dan berdiam di tempat bernama Madakaripura. Tanpa sosok Gajah Mada, Majapahit mengalami ancaman disintegrasi. Wilayah-wilayah bawahan berani memberontak karena merasa Majapahit melemah. Bagaimana tidak, Gajah Mada telah menuntaskan banyak masalah di Majapahit sejak zaman Jayanegara sampai Hayam Wuruk. Majapahit meminta Gajah Mada kembali untuk membantu mengatasi berbagai persoalan. Tapi pemberontakan sudah meluas dan masalah dalam negeri terlanjur pelik. Majapahit redup.

Bagi yang ingin mengetahui bagaimana akhir hidup Gajah Mada, silahkan beli bukunya. Tak rugi menjadikan novel ini sebagai koleksi abadi yang akan diturunkan untuk anak cucu. Meski fiksi alias rekaan, namun penulisnya, Langit Kresna Hariadi, benar – benar ketat mempelajari sejarah Majapahit, melakukan wawancara kepada ahli sejarah, membuka catatan-catatan prasasti, juga kitab Negarakertagama karangan Empu Prapanca.

Membaca buku ini kita akan belajar sejarah tanpa sadar sedang mempelajari sejarah.


armageddon wrote on Oct 22, '07
Waah koleksinya lengkap nih buuu... keren....
Ntar daku koleksi juga deh :D
atanz wrote on Oct 30, '07
Untuk bagian lain selain latar belakang bubat no comment, tapi khusus untuk latar belakang palagan bubat menurut saya sedikit "twisted". Mengapa demikian? LKH sedikit banyak sangat subyektif kalau tidak "membela" Gajah Mada, padahal kalau kita menggunakan logika, sangat erat hubungannya antara Hamukti Palapa dengan muslihat licik dan kotor Gajah Mada dengan menggunakan dalih lamaran Dyah Pitaloka untuk mengalahkan Kerajaan Sunda Galuh. Strategi licik ini digunakan mengingat Sunda Galuh adalah satu-satunya kerajaan yang tidak dapat ditaklukkan oleh Majapahit dengan cara normal, sampai akhirnya timbul ide jahat Gajah Mada untuk menggunakan taktik Lamaran. Hanya sayangnya, Gajah Mada tidak mengira kalau reaksi Hayam Wuruk atas tindakannya itu diluar dugaannya semula. Hayam Wuruk mengambil tindakan tegas atas tindakan pengecut Mahapatih Gajah Mada tersebut dengan menyuruhnya untuk mengundurkan diri. Adalah kekecewaan terbesar Hayam Wuruk ketika mengetahui bahwa Mahapatih kepercayaannya ternyata adalah seorang pengecut terbesar. Raja Galuh beserta Ibusuri, Dyah Pitaloka dan pengawalnya tentu sangat tidak mengira Kerajaan sebesar Majapahit mempertaruhkan kehormatannya dengan menyerang mereka secara pengecut di Bubat, sungguh sangat di luar dugaan. LKH tidak menyebutkan kenyataan bahwa dari sekitar 90-an pasukan termasuk raja sunda yang tanpa persiapan perang sama sekali bernyali besar untuk menewaskan lebih dari seribu pasukan Majapahit. Sayangnya fakta bubat sebenarnya memang tidak pernah diungkapkan dalam pelajaran sejarah di sekolah, padahal itu adalah pelajaran penting untuk mengingatkan bahwa tindakan pengecut adalah tindakan yang paling tidak terpuji dan bahwa menghalalkan segala cara dalam mencapai tujuan adalah cara yang paling hina dan tidak ksatria. Gajah Mada sangat tidak pantas untuk dijadikan contoh ataupun panutan hidup manusia Indonesia.
langitpos wrote on Feb 20
Menurut saya kok tidak ilmiah sama sekali, 90 orang mengalahkan seribu orang. Perbandingan jumlah (dan pembantaian) yang begitu besar pasti mewakili sakit hati yang dialami pihak Sunda. Manakala saya emosional, saya pasti akan berkhayal lebih dahsyat lagi, yang 90 orang itu mengamuk membunuh lebih dari jumlah itu (cara berkhayal yang demikian biasanya dikaitkan dengan kesaktian sementara kesaktian adalah sesuatu yang tidak ilmiah). Menurut saya, para tamu dari Sunda Galuh yang semula datang tidak untuk berperang tidak punya pilihan lain ketika Gajahmada menghadang mensyaratkan tanda takluk itu, senjata yang mereka gunakan pun kujang atau keris yang digunakan sebagai pelengkap penampilan, bandingkan dengan pasukan Majapahit yang bersenjata dengan jangkauan jauh, anak panah dan tombak, dalam keadaan demikian keris yang panjangnya hanya 50 cm mati kutu melawan anak panah. Yang terjadi pada tahun 1357 saat itu memang sebuah peristiwa sangat tragis, sebuah pembantaian dari jumlah yang tidak seimbang. Soal 90 membunuh 1000, saya tidak percaya itu.
Peristiwa Bubat seyogyanya dipandang sebagai sebuah peristiwa yang tidak dikaitkan dengan Jawa dan Sunda, sangat kontra produktif dan sukuisme. Seyogyanya peristiwa itu dilihat sebagai sebuah renungan, tak lebih dan tak kurang. Ada banyak gadis dan jejaka baik dari Sunda atau Jawa yang saling mencintai amat terganggu oleh mitos sontoloyo itu.
langitpos wrote on Feb 20
O ya, sampai lupa minta ijin sama yang punya rumah, terimakasih Tiyan saya sudah diijinkan mampir numpang berteduh, tolong tinggalkan jejak di candimurca@langitkresnahariadi,com salam untuk semua kerabat, langit kh
rerevoc wrote on Mar 5, edited on Mar 5
To ATANTS : Pantas n tidak pantas jika kita sudah mempelajari n mengetahui utuh dr sejarah yang akan kita teliti.Bukan hanya mengetahui sedikit dr yang ada lalu kt menjust yg msh belum pasti.jika gajah mada memang kurang pantas di jadikan contoh,lalu sipa yang memiliki latar belakang yg cukup menarik untuk dijadikan pembelajaran buat kita.kelemahan beliau memang ada,tp dia benar melakukan dan berani mengambil langkah serta resiko.bukan sekedar ucapan yg tak bertanggung jawab.lebih pengecut mana pahlawan2 kesiangan yang mengatasnamakan tetek bengek kepedilian untuk bersama,tp malah berada di balik itu semua yang akhirnya menjadi hancur.
Gajah Mada n Majapahit memang naif saat menyerang Kerajaan Galuh...hanya faktor mempersunting Diah Pitaloka,lantas apakah ini menjadi perdebatan n pertentangan di generasi kita yg akhirnya menimbulkan sebuah konflik turunmenurun....sepert laki2 jawa boleh menikahi dgn etnis sunda tp,kl laki2 sunda tidak boleh....Inikan yang terjadi (bonyok kita) dan ini masih ada dalam keluarga kecil di INDONESIA...mereka msh kemakan tragedi Perang Bubad pd masa itu.
Mempelajari sebuah sejarah dr leluhur sebelum kita,bukan menjadi pemikiran yg subyektif.kebenaran n ketidak benaran memang selalu ada dalam sejarah,dari situ kt akhirnya belajar.....
mpang99 wrote on May 18
Wuih asyik pasti, panjang deh klo mo cerita tentang buku ini...
Info juga neh yang g punya duit kaya saya, DL aja ebook nya...
Add a Comment
How would you rate this book? (optional)
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help