Kakiku sakit. Sepatu ini penyebabnya. Kulit imitasinya keras, menusuk-nusuk kakiku sampai lecet.
Yah, tak bisa berharap nyaman dengan sepatu seratus ribuan. Tapi andai sepatuku berharga jutaan tak mungkin pula kubawa jalan – jalan, nanti cepat rusak. Lagipula punya sepatu jutaan kok jalan kaki, pantasnya duduk manis dalam sedan.
Aah, sudahlah. Dengan kaki sakit kupaksakan melangkah sampai ujung Jalan Kebon Sirih berakhir. Untunglah pemandangan sepanjang Jalan Kebon Sirih bisa melupakan penderitaanku yang diakibatkan sepatu. Orang – orang yang duduk disamping gerobak mereka tak beralas kaki. Kalaupun ada, cuma sendal jepit butut dan sudah aus. Sebentar saja berjalan melewati mereka, tiba – tiba aku merasa mewah, karena meski membuat kaki lecet, sepatuku ini membuat penampilanku bak eksekutif muda.
Kupercepat langkahku karena tak ingin terlihat mentereng ditengah lingkungan yang bersahaja. Tak pantas rasanya. Sesampainya di ujung Jalan Kebon Sirih, aku bernafas lega karena kembali berbaur dengan orang – orang bersepatu mengkilap sepertiku. Tak kan ada tatapan yang membuat miris.
Kulihat kebawah, tersenyum pada sepatuku yang ternyata bisa membuatku bersyukur.