ReviewReviewReviewReviewReviewMusik Di telinga Pak BadunJul 3, '07 5:00 AM
for everyone
Category:Other
Kini Pak Badun punya kesukaan baru. Ia suka menari dan berdendang. Kadang-kadang istrinya sering diajak menari bersama namun menolak. Pernah pada suatu hari istrinya malah marah-marah ketika diajak menari seperti acara dansa yang ditayangkan di televisi.

“Ayo Bu, kita menari. Musiknya enak sekali. mungkin Reni yang menyetel kaset ini. Apa judulnya, ya? Ayo temani aku menari!” kata Pak Badun sambil menarik tangan istrinya.

“Tidak ada yang menyetel kaset, Pak! Tidak juga ada yang membunyikan lagu-lagu. Di televisi cuma siaran berita. Reni kan sedang liburan di tempat neneknya bersama Didi. Kenapa Bapak selalu mendengar suara yang tidak aku dengar?” jawab istrinya setengah mengingatkan.

“Ah, siapapun yang menyetel musik ini tak masalah. Aku suka. Rasanya ingin menari saja. Ayo temani aku, Bu!” kata Pak Badun memaksa.

“Tidak! Apa Bapak sudah gila? Kalau Bapak terus mengajakku menari malam ini aku akan menginap di rumah kakakku karena Bapak sudah gila!” istrinya marah.

Pak Badun heran kenapa istrinya marah diajak menari. Bukankah menari itu mengasyikan? Kasihan sekali istriku. Istrinya perlu ke dokter karena telinganya tidak pernah mendengar suara musik yang indah ini. Ia tertawa dalam hati menertawakan istrinya.

Awal bulan Nopember lalu Pak Badun mengalami musibah. Uang gajinya dirampok orang. Hari itu ia pulang hampir pukul sebelas malam. Motor yang dikendarai Pak badun diserempet motor lain hingga ia terjatuh. Saat jatuh itulah lehernya dikalungi celurit. Kerena takut dan kesakitan jatuh dari motor ia pun merelakan seluruh uang gajinya diambil perampok. Beruntung motornya tak ikut diambil. Kredit motor itu masih tiga bulan lagi lunasnya. Sesampainya di rumah, istrinya terkejut lalu menangis. Menangis meratapi uang gaji yang hilang. Istrinya menangis terisak menyesali bagaimana harus hidup bulan ini tanpa uang gaji. Pak Badun jadi serba salah. Rasa marah, sedih, sakit hati, sakit fisik dan bingung jadi satu dalam pikirannya.

Pak Badun terpaksa menguras tabungannya di bank untuk membiayai hidup bulan itu. Kredit motor harus dibayar, cicilan kulkas, bayaran sekolah anak-anak , biaya arisan istri, biaya les bahasa Inggris Reni, angsuran uang masuk Didi ke SMU, tagihan listrik, telepon dan sederet kewajiban lain yang harus dibayar membuat Pak Badun sering kerja lembur sampai jauh malam. Istri Pak Badun hampir tiap hari mengomel karena ia tidak rela tabungan hasil jualan pakaiannya ikut terambil untuk belanja sehari-hari. Istri Pak Badun juga terus menagih janji Pak Badun untuk menambah modalnya berjualan pakaian. Pak Badun hanya bisa berdoa dan rajin shalat tahajud.

Tiga bulan setelah perampokan itu kredit motor Pak Badun lunas. Reni juga tak lagi les bahasa Inggris karena sudah memperoleh sertifikat. Yang jadi masalah kini anak lelakinya, Didi, ingin juga dibelikan motor. Padahal baru bulan lalu ia memberi istrinya dua juta rupiah untuk tambahan modal jualan pakaian.Pak Badun juga mengganti uang tabungan istrinya yang terpakai saat uang gajinya dirampok. Uang untuk kuliah Reni juga mesti disiapkan. Sekarang darimana ia dapat uang untuk uang muka motor?

“Tunggu sampai kamu berumur tujuh belas tahun baru Bapak akan belikan motor untuk kamu. Kamu bawa motor harus pakai SIM, tidak bisa sembarangan,” Pak Badun memberi pengertian pada anaknya.

“Teman-teman Didi belum punya SIM dan belum tujuh belas tahun tapi sudah dibelikan motor bagus oleh orang tuanya. Masa Bapak tidak mau membelikan motor untuk Didi. Bapak tidak sayang Didi!” Didi merajuk.

“Pak, Didi sudah besar. Dia sudah lama bisa naik motor, SIM bisa belakangan, kan?! Yang penting sudah mahir mengendarai agar tidak tertangkap polisi. Lagipula biar dia tidak naik bus. Di bus itu rawan, Pak! Banyak copet, pemalak, belum lagi kalau busnya dicegat anak sekolah yang mau tawuran,” istrinya mendukung Didi.

“Apa Ibu tidak belajar dari pengalamanku dirampok? Untung motornya tidak ikut dirampok. Bagaimana kalau nanti motor Didi dicuri orang? Bagaimana kalau Didi juga dirampok! Lagipula uangnya belum ada untuk beli motor,” Pak Badun berusaha sabar.

Didi mengancam akan mogok sekolah bila tak dibelikan motor. Didi ingin seperti teman-temannya yang naik motor ke sekolah. Didi tak mau tahu Bapaknya punya uang atau tidak. Lebih lagi istrinya mendukung Didi membeli motor. Pak Badun terpaksa menyetujui.

Pak Badun jadi sering sakit kepala. Sakit kepala itu hilang jika terdengar suara musik. Maka ketika Pak Badun sakit kepala ia tak risau karena setelah itu pasti terdengar suara musik yang menenangkan hati. Darimana datangnya suara musik itu tak terlalu dipikirkan. Yang penting musik itu merdu, menentramkan, dan membuat Pak Badun nyaman. Anehnya suara musik itu datang saat di rumah saja. Di kantor ia tetap konsentrasi pada pekerjaannya. Jika ditunggu di kantor, suara musik tetap tidak datang.

Akhirnya Didi bisa punya motor. Didi tidak mau tahu kalau Bapaknya meminjam uang dari kantor untuk membayar uang muka motor. Bulan depan gaji Bapaknya akan dipotong. Pak Badun menyadari itu. Maka untuk membuat gajinya utuh ia kerja lembur lagi hampir setiap hari. Kalau gajinya tidak utuh istrinya sanggup mengomel sebulan penuh sampai dapat gaji utuh.

Suara musik di telinga Pak Badun lambat laun semakin keras. Tidak lagi samar-samar. Suara musiknya bermacam-macam. Belakangan ini musiknya terdengar berirama dangdut, disko, bahkan jazz! Musik yang beragam itu membuat ia ingin menari dan berdansa.

Pagi hari setelah mandi didengarnya suara musik pop ala grup musik Slank. Ia tak tahan untuk menggoyangkan kakinya. Sambil memakai baju ia bersiul dan menari-nari kecil. Istrinya yang sedang membereskan tempat tidur heran dengan sikap suaminya.

“Bapak kenapa? Mimpi dapat wangsit?” tanya sang istri. Pak Badun tersenyum. Kini kepalanya mengikuti suara musik. “Aku lagi dengar musik. Enak lho lagunya! Lagu anak muda nih!” jawabnya.

Istrinya melotot,” Lagu apa? Tidak ada yang memasang lagu,” sang istri tambah heran. “Ya sudah aku mau menyiapkan buat teh dulu. Sebaiknya Bapak jangan berkhayal. Cepat pakai baju, nanti telat ke kantor,” kata istri Pak Badun masih dengan nada heran.

Sejak itu Pak Badun bersemangat untuk tiba di rumah lebih cepat karena ia siap mendengar bermacam musik yang tak terduga ragamnya. Ia tidak pernah lembur lagi. Omelan istrinya tentang uang belanja yang kurang juga tidak pernah lagi didengarnya. Permintaan Didi untuk membayar kredit motornya juga tak ia hiraukan. Rengekan Reni yang meminta uang jajan tambahan juga bisa diabaikan.

Istrinya yang sering marah-marah tambah kesal setiap kali Pak Badun menari. Ia mengira suaminya diguna-guna orang. Sebelum sarapan, pulang kerja atau membaca koran, tubuhnya tak henti bergoyang. Reni mengira Bapaknya kena gejala sakit ayan. Didi menganggap Bapaknya punya wanita simpanan sehingga selalu gembira. Lama-lama keluarganya merasa terganggu. Mereka membawa Pak Badun ke dukun. Tak berhasil. Malah Pak Badun tambah sering dan semangat menari. Keluarganya yang bingung membawa ke desa tempat orang tua Pak Badun tinggal.

Sampai sekarang Pak Badun tinggal di desa itu sambil bertanam padi. Musik sesekali terdengar di telinganya. Ia masih menari tapi tidak sesering saat ia masih berstatus karyawan dan berkumpul bersama keluarganya di kota.

armageddon wrote on Aug 2, '07
Setiap alinea/paragraf di kasih jarak donk buu biar enak di bacanya :D
tiyan wrote on Aug 2, '07
Oiya..lupa..soale ini copy paste dari word sih..hehehehe!
dyahnurhaidah wrote on Sep 17, '07
cerpen yg sungguh lucu n menarik utk di baca.
Add a Comment
How would you rate this thing? (optional)
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help