Blog EntryGajah di Pelupuk Mata Tak TampakMar 30, '08 11:52 PM
for everyone
Beberapa waktu lalu adik saya yang masih kuliah mengadakan kegiatan bakti sosial bersama unit kegiatan mahasiswa di kampusnya. Seperti zaman saya kuliah dulu dan sebelumnya waktu saya sekolah dulu, bakti sosial kebanyakan diadakan di daerah Depok dan Bogor. Adik saya dan teman-temannya pun demikian, mengadakannya di Bogor. Alasannya di kota tersebut masih banyak orang miskinnya.

Alasan itu, menurut saya pribadi, sebenarnya diadakan-adakan. Karena mengapa di tempat itu masih banyak orang miskinnya dijadikan alasan sementara disini (Jakarta) orang miskin pun bejibun. Bahkan tetangga sekeliling kita pun ada yang miskin meski kita tinggal di pemukiman elit.

Sebelum melakukan bakti sosial, kita biasanya sibuk mengumpulkan baju bekas, uang untuk beli sembako, perlengkapan makan, bahkan didahului survei ke lokasi. Setelah itu baru ramai-ramai mendatangi lokasi bakti sosial dan ada beberapa yang menginap disana terlebih dahulu. Menginap? Ya. Kalau tidak menginap nanti persiapannya tidak matang. Lalu dimana menginapnya? Ya di rumah penduduk yang akan dibantu itu. Wah, ternyata hebat juga. Sebelum membantu ternyata kita masih ada pamrih untuk "memaksa" orang miskin itu kita tumpangi. Apakah orang miskin itu tidak merasa direpotkan oleh keberadaan kita disana? Ahh, biar saja. Biasanya orang desa senang kedatangan orang kota kok.

Nama kegiatan berjudul 'bakti sosial' memang ditujukan untuk membantu orang miskin, apalagi jika dilakukan anak sekolah atau mahasiswa, makin mulia saja nama mereka. Tapi membantu orang miskin  tak harus jauh-jauh di Bogor, bukan? Sementara lokasi tempat tinggal kita ada di Jakarta. Meski di kota berjuluk metropolitan ini kelihatan kaya, bukan berarti tak ada orang miskin.

Bakti sosial yang diadakan adik saya di daerah Bogor itu, ndilalahnya bertepatan dengan ketika nelayan di Marunda Jakarta Utara terkena gelombang pasang (kemudian puting beliung) yang menyebabkan rumah mereka hancur. Nelayan Marunda tidak kena air pasang saja hidupnya sudah susah. Rumah tidak layak, makan belum tentu sekali sehari, sering kena rob (limpahan air laut ketika pasang), dan anak-anak mereka banyak yang tidak sekolah karena tidak ada uang.

Melihat itulah kesimpulan saya berakhir dengan pemikiran bahwa keinginan untuk pelesir ke daerah pedalaman lebih utama dibanding niat untuk bakti sosial. Apa yang dilakukan adik saya dan teman-temannya itu juga dilakukan kita secara sadar atau tidak. Terlebih lagi mereka yang melakukan bakti sosial berusaha tampil fashionable, membawa banyak kebutuhan untuk hura-hura, sekaligus ajang 'mendekatkan diri lebih dekat kepada lawan jenis'. Bisa jadi mungkin karena itulah anak muda memilih melakukan bakti sosial di tempat yang daerahnya sejuk atau di dekat pantai, bukan di daerah mereka sendiri yang miskinnya jelas di depan mata. Sambil amal sambil senang-senang. Sekali kayuh tiga pulau terlampaui. Ada pepatah lagi yang cocok; kuman di ujung benua kelihatan, gajah di pelupuk mata tak tampak.

iipnih wrote on Mar 31
yang namanya bakti sosial, study tour, study banding, ujungnya cuma satu... jalan2. :P
alfanalfian wrote on Apr 16
Suatu kritik sosial yang mengena. Soal gajah di pelupuk mata itu memang menunjukkan bahwa manusia itu punya subyektifitas yang irasional, yang bahkan dalam ekstrem tertentu tidak manusiawi. Karenanya, perbandingan-perbandingan pengalaman hidup itu perlu sekali. Supaya kita menjadi semakin tercerahkan. Hehe... begitulah kira-kira..

Nulis terus mbak, tulisannya bagus2 kok
tiyan wrote on Apr 29
Terima kasih ..
Terima kasih banyak ya.
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help