Aliran Ahmadiyah oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) sudah dinyatakan sesat. Banyak dari keyakinan Ahmadiyah adalah bukan keyakinan Islam, tapi mereka tetap mengaku Islam. Itu sebabnya mereka dinyatakan sesat dan menodai akidah umat Islam.
Di Pakistan sendiri yg merupakan negara kelahiran Ahmadiyah, aliran ini sudah dilarang, dinyatakan sesat, dan non-muslim.
Pemerintah (Kejaksaan Agung dan Departemen Agama) belum memutuskan soal Ahmadiyah karena pemerintah “melihat" bahwa Ahmadiyah telah mengeluarkan 12 butir pernyataan. Salah satu diantaranya bahwa Mirza Ghulam Ahmad bukan Nabi tapi hanya guru. Ini membuat pemerintah merasa tidak ada yang salah dengan ajaran Ahmadiyah. Pemerintah merasa wajib mengayomi seluruh rakyatnya. Tapi dalam hal yg lebih penting, pengadaan PANGAN misalnya, yg harganya tiap hari naik itu, kenapa pemerintah tidak ngotot mengayomi?!
Tindakan pemerintah ini (menurut saya) adalah tindakan adu domba yang sangat mungkin mempercepat kerusakan akidah umat Islam, yang memang sudah memprihatinkan. Tindakan pemerintah ini membuat umat bingung, marah, gelisah, sekaligus secara tidak langsung mencoreng moreng dan mendiskreditkan nama MUI yang notabene isinya adalah ulama. Dengan demikian ulama yang ilmu agamanya mumpuni itu mendapat cap sebagai pelanggar HAM karena sebentar-sebentar mencap ini haram itu haram, dll. Menurut saya, apa yg dilakukan MUI justru melindungi HAM umatnya, juga umat lain diluar Islam agar tidak terpedaya. Apa yang dilakukan MUI bukan membatasi umatnya tapi mengingatkan dan mengarahkan agar tidak keluar dari jalur iman dan akidah yg merugikan umat Islam sendiri.
Inilah yang salah satu yang menjadi dasar keputusan MUI menegaskan kembali bahwa Ahmadiyah adalah diluar Islam, sesat, dan menyesatkan :
1. Firman Allah SWT,
Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi; dan adalah Allah Maha mengetahui segala sesuatu (QS. Al-Ahzab [33]: 40)
Dan bahwa (yang kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan itu menceraiberaikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu di perintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa (QS. Al- An’am [6]: 153)
Hai orang-orang yang beriman! Jagalah dirimu. Tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudarat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk…. (QS. Al-Ma’idah [5]: 105)
2. Hadist Nabi SAW A.l:
Rasulullah bersabda: "Tidak ada Nabi sesudahku" (HR. al-Bukhari).
Rasulullah bersabda: “Kerasulan dan kenabian telah terputus; karena itu, tidak ada Rasul maupun Nabi sesudahku" (HR Tirmidzi)
Juga ada sedikit bukti yang disodorkan Prof.Mustafa Yaqub tentang mengapa Ahmadiyah sesat dan merusak akidah umat Islam.
- Ahmadiyah yakin Allah menurunkan kitab suci al-kitab al mubin kepada Mirza Ghulam Ahmad.
- Ahmadiyah yakin bahwa ibadah haji adalah muktamar tahunan di Qadian. Mahmud Ahmad, anak Ghulam Ahmad berkata "Muktamar tahunan kami adalah ibadah haji. Dan Allah memilih tempat untuk itu Qadian."
- Orang yg tidak beriman kepada Ghulam Ahmad sebagai nabi dan rasul adalah kafir.
- Menurut Ahmadiyah Nabi Isa yang diutus untuk Bani Israil sudah wafat. Sementara Nabi Isa yang akan turun lagi di dunia pada akhir zaman nanti adalah bukan Nabi Isa yang diutus kepada Bani Israil, tapi orang lain yang serupa dengan Nabi Isa. Orang itu adalah Mirza Ghulam Ahmad.
Sedangkan umat Islam berkeyakinan Nabi Isa belum wafat, beliau diangkat ke langit oleh Allah dan kelak diakhir zaman akan turun lagi ke dunia. Jelas sudah bahwa tindakan umat Islam yang menyerang Ahmadiyah (meski Islam sangat melarang kekerasan dlm bentuk apapun) namun hal itu terjadi karena sebab – akibat. Sebabnya Ahmadiyah telah menodai agama Islam dan merusak akidah umat Islam selama puluhan tahun. Suatu waktu yg lama. Akibatnya umat Islam bertindak untuk membela diri dan agamanya Cara merekalah yang salah karena membela diri dengan cara kekerasan dan menyakiti orang lain. Bukan dengan cara kasih sayang seperti ketika Rasulullah SAW mengasihi orang-orang yang hendak membunuhnya.
Tulisan ini adalah pendapat pribadi yg sebagian isinya dikutip dari situs MUI dan tulisan Prof.Dr.Mustafa Yaqub di Harian Pelita edisi 25 Januari 2008 hal.13