Seminggu sebelum menggelar Kongres, sesuai PD/PRT, kantor saya (Pusat) harus mengirim materi laporan ke Cabang – cabang seluruh Indonesia. Demi kepraktisan, kecepatan, dan efisiensi, kantor saya memutuskan mengirimnya melalui email. Pak Siswanto (staf Bidang Pers Daerah) kebagian tugas mengumpulkan email Cabang – cabang. Dan sayalah yang kebagian mengirim email itu (maklum, Pak Siswanto juga belum lama belajar email – emailan)...weleh...weleh!
Ini dia!
Rupanya Cabang – cabang belum familiar dengan yang namanya email alias electronic mail. Berkali – kali Pak Siswanto mengontak Ketua Cabang namun email itu baru didapat dua hari kemudian. Email sebagian besar milik pribadi si ketua, milik kantor, bahkan ada yang meminjam email anaknya!Ada juga Cabang yang baru membuat account email setelah diminta.
Ironis...Ironis!
Padahal tema Kongres tahun ini adalah Konvergensi Media yang arti kasarnya, menurut saya, sebaran sinkronisasi dari media cetak ke media elektronik/online. Gimana bisa menuju aplikasi konvergensi media kalau sama email aja masih gagap. Waduh!
Ini membuktikan kalau penyebaran teknologi masih sebatas di Jakarta dan kota besar aja.
Akhirnya, mulai saat itu, Pusat memutuskan Cabang juga harus menggunakan email kalau mau kirim laporan, surat, dll, kecuali dokumen yang membutuhkan tanda tangan Pusat.
Untungnya, ada juga Cabang yang sadar konvergensi, meski baru sebatas “teleconference”. Waktu Kongres memutuskan Dahlan Iskan (Jawa Pos) sebagai Ketua Umum, beliau sudah terbang kembali ke Surabaya karena harus menghadiri rapat penting. Karena forum ingin mengetahui kesediaan Dahlan Iskan, Cabang Sumatra Selatan yang diketuai Soeparno Wonokromo (Sumatra Ekspres yg juga grup Jawa Pos), memutuskan melakukan “teleconference” dengan Dahlan Iskan. Alhasil forum yakin bahwa beliau, dengan dukungan Jakob Oetama (CEO Kelompok Kompas Gramedia) bersedia menjadi ketua dan diputuskan secara aklamasi.
Sekarang saya punya bos baru!
Tadinya kantor saya dipimpin Jakob Oetama, sekarang Dahlan Iskan. Menyenangkan dipimpin orang – orang hebat, bisa belajar banyak dengan gratis, hihihi! Tadinya saya berharap Kongres juga bisa mengganti direktur eksekutif yang blo’on-nya kebangetan itu, tapi ternyata dia masih melenggang bebas. Bahkan makin gila memasukkan kepentingan pribadi jadi program organisasi. Gila!
Balik ke email.
Sebenarnya bukan cuma Cabang – cabang aja yang gagap sama email. Staf – staf dikantor saya juga gagap. Maklum, mereka (kecuali saya dan direktur eksekutif) sudah tua – tua, kerja di kantor ini sudah lebih dari 15 tahun, ada yg 20 tahun, bahkan 25 tahun! Maklum lagi, di kantor ini ga ada pensiun. Kerja sampai wafat. So, mereka bukan generasi teknologi informatika. Mereka baru punya email setahun lalu, berbarengan dengan aktifnya website baru kantor. Itupun jaraaaaang dibuka. Saya sampai harus mengirim memo internal plus username dan password email mereka berkali-kali ke mereka supaya buka email. Direktur eksekutif membuat kebijakan bahwa dokumen internal, memo, notulen, laporan, dll dikirim melalui email (atau Yahoo Messenger) demi menghemat kertas, tinta printer, dan fotokopi.
Niatnya sih, kantor saya mau niru manajemen induk organisasi media cetak dunia (World Association of Newspaper – berkantor di Paris), dan lalu mengusung tema konvergensi media. Gimana mau konvergensi, sama email aja masih gagap, hahahahaa!