Banyaknya mall (kini diserap kedalam bahasa Indonesia menjadi mal) atau pusat perbelanjaan adalah ciri kota sakit, kata Enrique Penalosa, mantan Walikota Bogota.
Ayo kita analisa sedikit kata pak mantan walikota itu menurut kacamata kuda.
Jakarta adalah kota yang dijibuni mal. Jakarta tiap tahun jadi epidemi demam berdarah dengue alias DBD. Virus HIV dan penyakit AIDS bertambah tiap tahun, begitu juga dengan penyakit sosial. Gelandangan, pengemis, rampok, palak, tunawisma, dll.
Jadi betul juga kata pak mantan walikota ya.
Oiya, Bogota adalah kota yang proyek tranjakarta busway-nya ditiru Jakarta. Tapi Bogota lebih rapi, terukur dan terencana. Jakarta lebih asal-asalan. Liat aja bus di koridor 4-7 masih kurang, orang jadi gak keangkut sama bus itu dan harus ngantri lamaaaaaa..
Tapi kita kan gak ngomongin soal transjakarta busway. Kita ngomongin soal kota mal kota sakit.
Padahal jujur, sebagai orang yang mbrojol dan nyari duit di Jakarta, saya sumpek lihat ada bangunan komersil dimana-mana. Kesannya kurang manusiawi. Orang disuruh belanja teruuus, disuruh dagang teruuus, disuruh kerja teruus. Wilayah pemukiman penduduk juga dibabat jadi salon, kantor, butik, dan restoran. Bahkan bangunan-bangunan tua bersejarah yang harusnya dipugar dan dilestarikan, juga dibongkar jadi pusat belanja, apartemen dan kantor.
Lalu jadilah Jakarta kota komersil. Karena jadi kota komersil maka orang dari pelosok dusun berbondong-bondonglah datang ke Jakarta. Orang-orang itulah yang secara turun temurun akhirnya secara miskin, kumuh, dan padat tinggal dibantaran kali, pinggir rel KA, tanah kosong milik orang, dan kolong jembatan layang.
Jadilah Jakarta sekarang sakit karena penyakit. Sakit juga secara sosial. Mal itu juga, menurut saya pribadi, bikin orang jadi konsumtif, gak kreatif, dan melemahkan ekonomi dalam negeri. Lha iya, orang yang ada di mal itu nyaris impor semua, meski bahan baku dan bikinnya di Indonesia. Liat itu Senayan City, katanya akan menjadi pusat belanja bintang lima alias yang dijual didalamnya impor bin muahaal. Juga Plaza Indonesia, setelah Sogo pindah, nantinya bakal diisi retailer dari luar negeri yang selangit juga harganya. Juga berapa banyak ITC-ITC ditiap jengkal tanah. Yah, padahal msh banyak rakyat Indonesia yang belum bs makan dengan layak. Ini mungkin yang namanya sakit.
Kita jadinya giat impor bukannya giat ekspor..
Yah, gimana ya. Kata adik saya yang lulusan manajemen perbankan "With money you can do everything."
Karena yang punya mal itu orang yang duitnya gak habis-habis jadinya ya bikin mal teruuus.
Banyaknya mall (kini diserap kedalam bahasa Indonesia menjadi mal) atau pusat perbelanjaan adalah ciri kota sakit, kata Enrique Penalosa, mantan Walikota Bogota.