EventBerkabungMay 10, '08 11:44 AM
for everyone
Start:     May 22, '08
Location:     Tasikmalaya
Nenek,
empat puluh hari lalu kau telah pulang ke hadirat Illahi, Allah Maha Pengasih yang menciptakanmu.
Kau kembali pada-Nya didampingi seluruh anak-anakmu. Seluruh anakmu yang membacakan doa dan tauhid sampai jiwamu damai lepas dari raga.

Nenek,
ketika aku melihat nafasmu yang terakhir sampai matamu menutup selamanya, sungguh aku tak bisa menahan air mata ini. Terbayang kembali tujuh hari sebelumnya saat kau sakit tak berdaya. ketika itu kau tersenyum saat kuceritakan isi berita di televisi. Kau berteriak saat kuceritakan aku telah keluar dari pekerjaan lamaku. Juga kala kau kesakitan ketika jarum suntik dokter menembus kulit tipismu. Tapi kau tak berdaya. Tubuh lemahmu hanya bisa mendengar tanpa dapat berucap sedikitpun. Sungguh aku tak menyangka kau akan pergi tujuh hari setelah itu.

Nenek,
kau begitu baik hati, walau kata ibuku dulu kau amat galak. Aku ingat waktu sekolah dulu aku sering sekali mampir ke rumahmu waktu jam istirahat tiba. Pura-pura ambil tongkat pramuka yang memang sengaja kusimpan di rumahmu. Tapi sebenarnya itu trik saja supaya bisa dapat uang jajan tambahan darimu.

Tiap aku berkunjung ke kampung halamanmu kau menceritakan kala mudamu sebagai perawat. Kau fasih bahasa Belanda karena kau belajar di sekolah Belanda, bergaul dengan orang Belanda, namun bekerja melawan Belanda. Juga kala kau menceritakan pertemuan dengan kakek yang seorang pedagang. Aku juga ingat bagaimana romantisnya kakek kepada nenek. Aku juga sangat menyayangi kakek. Kakek sama baiknya dengan nenek. Tapi keningratan nenek membuatku tak bisa bercanda sebagaimana aku bercanda dengan kakek. Tata kramamu begitu tinggi untukku.

Kau dulu sering menyanyi lagu-lagu Belanda yang aku tak mengerti artinya. Kau juga sering bernyanyi tentang kakek buyut yang menjadi perintis berdirinya kampung yang menjadi tanah kelahiranmu.

Nenek,
aku tahu kau sempat sedih di hari tuamu setelah ditinggal kakek yang lebih dulu menghadap-Nya. Kau kesepian. Anak-anakmu jarang menjengukmu karena kesibukan dan karena biaya yang terbatas. Kau tak lagi bisa membaca koran dan menghabiskan waktu mengisi TTS karena fungsi matamu menurun. Kau jadi amat kesepian. Untunglah tetangga-tetanggamu disana baik hati menemanimu sepanjang waktu.

Nenek,
aku bersyukur bisa mendampingi dan merawatmu pada tujuh hari terakhir hidupmu. Meski belum puas rasanya tapi aku yakin kau tahu aku begitu menyayangimu. Aku pun tahu kau menyayangiku dan semua cucu-cucumu. Kini kau sudah kembali ke penciptamu yang mengasihimu. Semoga dosa-dosamu diampuni Allah yang Maha Pengampun, semoga kuburmu lapang dan terang, semoga kau dapat tempat layak di sisi Allah, dan amal ibadahmu diterima. Amiin ya robbal alamin.

reramadhan wrote on May 10
ikut berduka cita ya Tiyan....
ditz777 wrote on May 11
turut berduka ya mbak... memang menyedihkan ditinggal orang-orang yang dicintai...
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help